Pengertian dan Perbedaan IPv4 dan IPv6 di Jaringan Komputer
Internet
Protocol Address (IP) adalah bilangan biner antara 32-bit 128-bit yang unik dan
berbeda antara satu dengan lainnya yang dibuat untuk mengidentifikasi komputer
host di jaringan internet. Fungsi dari IP pada jaringan komputer adalah alamat
di komputer yang dapat dihubungkan ke komputer lain, alamat IP terdiri dari 4
blok, setiap blok diisi dari 0-255. Contoh alamat IP seperti 192.168.100.1 dan
10.57.38.223, contoh dari IP alamat IPv4.
IP
mempunyai versi yang berbeda, yaitu IPv4 dan IPv6 yang memiliki kelebihan dan
kekurangannya masing-masing. Dari kedua versi IP tersebut, apakah kamu tau
perbedaannya? dibawah ini saya akan mencoba mengulas mengenai perbedaan IPv4
dan IPv6 pada jaringan komputer.
Pengertian IPv4 dan IPv6
IPv4
Internet
protocol versi 4 atau IPv4 adalah Jenis
jaringan yang digunakan di dalam protokol jaringan TCP / IP menggunakan
protokol IP versi 4. Panjang totalnya adalah 32-bit dan secara teoritis dapat
mengatasi hingga 4 miliar host komputer atau lebih tepatnya 4.294.967.296 host
di seluruh dunia, jumlah host diperoleh dari 256 (diperoleh dari 8 bit)
dipangkat 4 (karena terdapat 4 oktet) sehingga nilai maksimal dari alamat IP
versi 4 adalah 255.255.255.255 dimana nilai dihitung dari nol sehingga nilai
host yang dapat ditampung adalah 256x256x256x256 = 4.294.967.296 host, ketika
host yang ada di seluruh dunia melebihi kuota tersebut maka dibuatlah IP versi
6 atau IPv6. Contoh IP versi 4 alamat adalah 192.168.0.3.
IPv6
Internet
protocol versi 6 atau IPv6 adalah Internet
protocol yang akan menggantikan versi protokol Internet saat ini, yaitu
IPv4 (Internet Protokol Versi 4) digunakan hampir 2 dekade. Alasan utama
upgrading ke Internet Protokol versi 6 adalah karena masalah IP Adress. Menurut
InterNIC mereka sudah habis alamat IP di kelas a dan kelas b dan sekarang ke
kelas C. Mereka tidak punya pilihan lain kecuali meng-upgrade internet
protokol ke Versi lebih baik dan tujuan konfigurasi IPv6 adalah untuk mengatasi
masalah keterbatasan.
Perbedaan IPv4 dan IPv6
1. Fitur
·
IPv4 : jumlah alamat menggunakan
32 bit sehingga jumlah alamat unik yang didukung terbatas yaitu 4.294.967.296
atau lebih dari 4 miliar alamat IP saja. NAT hanya mampu memperlambat
penggunaan tak berujung jumlah alamat IPv4, tapi tetap saja, karena pada
dasarnya IPv4 menggunakan 32 bit sehingga tidak mengimbangi pertumbuhan dunia
internet.
·
IPv6 : Menggunakan 128 bit untuk
mendukung 3.4 x 10 ^ 38 alamat IP yang unik. Sebuah jumlah yang sangat besar
dan lebih dari cukup untuk memecahkan masalah terbatasnya jumlah alamat di IPv4
secara permanen.
2. Routing
·
IPv4 : routing kinerja menurun
dengan ukuran pertumbuhan tabel routing. Penyebab pemeriksaan sundulan MTU di
setiap router dan hop switch.
·
IPv6 : Dengan proses routing
yang jauh lebih efisien dari pendahulunya, IPv6 memiliki kemampuan untuk
mengelola tabel routing yang besar.
3. Mobilitas
·
IPv4 : Dukungan untuk mobilitas
dibatasi oleh kemampuan roaming saat beralih dari satu jaringan ke yang lain.
·
IPv6 : Memenuhi kebutuhan
mobilitas tinggi melalui roaming dari satu jaringan ke jaringan sementara yang
lain masih mempertahankan kelangsungan sambungan. Fitur ini mendukung
perkembangan aplikasi.
4. Keamanan
·
IPv4 : Meskipun umum digunakan
dalam mengamankan jaringan IPv4, IPsec header tambahan pilihan fitur pada
standar IPv4.
·
IPv6 : IPsec dikembangkan
sejalan dengan IPv6. Header IPsec menjadi fitur wajib dalam implementasi IPv6
standar.
5. Ukuran Header
·
IPv4 : Ukuran dasar sundulan 20
oktet sundulan plus ukuran pilihan yang dapat bervariasi.
·
IPv6 : tetap ukuran header 40
oktet. Beberapa header IPv4 seperti Identification, Flags, Fragment diimbangi
header checksum dan padding telah dimodifikasi.
6. Header Checksum
·
IPv4 : Ada sundulan checksum
diperiksa oleh masing-masing switch (perangkat lapisan ke 3), sehingga
meningkatkan keterlambatan.
·
IPv6 : proses checksum tidak
dilakukan di tingkat header, tapi end to-end. Header IPsec telah menjamin
keamanan yang memadai
7. Fragmentasi
·
IPv4 : Forum setiap hop yang
memperlambat kinerja router, proses menjadi lebih lama jika ukuran paket data
melampaui Maximum Transmission unit (MTU) paket patah sebelum dipasang kembali
di tempat tujuan.
·
IPv6 : hanya dilakukan oleh host
yang mengirimkan paket data. Selain itu, ada fitur MTU yang menentukan
fragmentasi lebih tepat untuk menyesuaikan nilai MTU terkecil yang terdapat
dalam jaringan dari ujung ke ujung.
8. Konfigurasi
·
IPv4 : ketika sebuah host
terhubung ke jaringan, konfigurasi dilakukan secara manual.
·
IPv6 : memiliki konfigurasi
otomatis stateless dimana ketika sebuah host terhubung ke jaringan, konfigurasi
dilakukan secara otomatis.
9. Kualitas Layanan
·
IPv4 : Menggunakan mekanisme
usaha terbaik untuk terlepas dari kebutuhan.
·
IPv6 : Menggunakan tingkat
terbaik dari mekanisme upaya yang menjamin kualitas layanan. kelas lalu lintas
sundulan menentukan prioritas pengiriman paket data berdasarkan kebutuhan akan
kecepatan tinggi atau tingkat latency tinggi.
Subnetting CIDR (Classless
Inter-Domain Routing)

CIDR (Classless Inter-Domain Routing) adalah sebuah
cara alternatif untuk mengklasifikasikan alamat-alamat IP berbeda dengan sistem
klasifikasi ke dalam kelas A, kelas B, kelas C, kelas D, dan kelas E. Disebut
juga sebagai subnetting. CIDR merupakan mekanisme routing yang lebih efisien
dibandingkan dengan cara yang asli, yakni dengan membagi alamat IP jaringan ke
dalam kelas-kelas A, B, dan C.
CIDR memakai network prefix dengan panjang tertentu. Network
prefix ini menentukan jumlah bit sebelah kiri yang digunakan sebagai network
ID. Contoh dari penulisan dari network previx adalah /18 dibelakang
ip address. Contoh : 202.168.0.1 /18.CIDR.
Tabel CIDR
subnet mask yang bisa digunakan untuk melakukan subnetting
pun berbeda-beda mengikuti kelas-kelasnya yaitu :
kelas C : /25 sampai /30 (/25, /26, /27,
/28, /29, /30)
kelas B : /17 sampai /30 (/17, /18, /19,
/20, /21, /22, /23, /24, /25, /26, /27, /28, /29, /30)
kelas A : sampai subnet mask dari /8 sampai /30(/8,/9,/10,/11,/12,/13,/14,/15,/16,/17,/18,/19,/20,/21,/22,/23,/24,/25,/26,/27,/28,/29,/30)
Subnetting pada IP ADDRESS kelas C
Subnet mask yang bisa digunakan untuk melakukan subnetting
pada kelas C adalah /25 sampai /30
Misalkan Network Address 192.168.1.0/26.
Disini kita akan coba mencari tahu Jumlah subnet, Jumlah
Host per subnet, Blok subnet, dan alamat Host dan
broadcast yang valid.
Mari kita simak, analisa-nya seperti ini:
192.168.1.0 adalah kelas C (karena oktet pertama dalam range
192-223) /26 =255.255.255.192=11111111.11111111.11111111.11000000
ket: karena jumlah bilangan biner dari subnet mask diatas
cuman 24 maka ditambah 2 lagi pada subnet mask yg terakhir (host ID)
karena kelas C, kita akan menggunakan di oktet terakhit.
Jumlah subnet = 2 pangkat x, (x adalah banyaknya Biner 1
pada oktet terakhir subnet mask)
jadi jumlah subnet adalah 2 pangkat 2 = 4 subnet
Jumlah Host per subnet = 2 pangkat y dikurangi 2 (y adalah jumlah binary 0 pada oktet terakhir subnet mask)
Jadi jumlah Host per subnet adalah 2 pangkat 6 dikurangi 2 = 64-2=62
Blok subnet = 255 dikurangi angka desimal oktet terakhir subnet mask
blok subnet-nya = 256-192 = 64, 64+64 = 128, 128+64 = 192
Jumlah Host per subnet = 2 pangkat y dikurangi 2 (y adalah jumlah binary 0 pada oktet terakhir subnet mask)
Jadi jumlah Host per subnet adalah 2 pangkat 6 dikurangi 2 = 64-2=62
Blok subnet = 255 dikurangi angka desimal oktet terakhir subnet mask
blok subnet-nya = 256-192 = 64, 64+64 = 128, 128+64 = 192
jadi jumlah seluruh blok subnet = 0,64,128,192
blok subnet ke 1 = 192.168.1.0
blok subnet ke 2 = 192.168.1.64
blok subnet ke 3 = 192.168.1.128
blok subnet ke 4 = 192.168.1.192
Host dan broadcast yang valid sebagai berikut:
-host pertama adalah satu angka setelah subnet
-host terakhir adalah satu angka sebelum broadcast
-broadcast adalah satu angka sebelum subnet berikutnya
Subnetting
Sampailah kita pada pokok pembahasan dalam tulisan ini yaitu
metode CIDR, berhitung IP address dengan ini banyak digunakan dan sangat
membantu dalam proses pembagian IP address, banyak tulisan yang membahas cara
ini seperti di CCNA-CNAP, khususnya dalam soal-soal ujian yang dilakukan oleh
cisco, Pada kesempatan ini yang akan kita lakukan adalah perhitungan subnetting
lanjutan atau yang dikenal dengan VLSM (variable length Subnet Mask), namun
sebelum kita membahas VLSM ada baiknya kita sedikit meriview tentang subnetting
menggunakan CIDR. Pada tahun 1992 lembaga IEFT memperkenalkan suatu konsep
perhitungan IP Address yang dinamakan supernetting atau classless inter domain
routing (CIDR), metode ini menggunakan notasi prefix dengan panjang notasi
tertentu sebagai network prefix, panjang notasi prefix ini menentukan jumlah
bit sebelah kiri yang digunakan sebagai Network ID, metode CIDR dengan notasi
prefix dapat diterapkan pada semua kelas IP Address sehingga hal ini memudahkan
dan lebih efektif. Menggunakan metode CIDR kita dapat melakukan pembagian IP
address yang tidak berkelas sesukanya tergantung dari kebutuhan pemakai.
Sebelum kita melakukan perhitungan IP address menggunakan metode CIDR berikut
ini adalah nilai subnet yang dapat dihitung dan digunakan Sumber table dibawah
berasal dari.
Subnet Mask
|
CIDR
|
Subnet Mask
|
CIDR
|
255.128.0.0
|
/9
|
255.255.240.0
|
/20
|
255.192.0.0
|
/10
|
255.255.248.0
|
/21
|
255.224.0.0
|
/11
|
255.255.252.0
|
/22
|
255.240.0.0
|
/12
|
255.255.254.0
|
/23
|
255.248.0.0
|
/13
|
255.255.255.0
|
/24
|
255.252.0.0
|
/14
|
255.255.255.128
|
/25
|
255.254.0.0
|
/15
|
255.255.255.192
|
/26
|
255.255.0.0
|
/16
|
255.255.255.224
|
/27
|
255.255.128.0
|
/17
|
255.255.255.240
|
/28
|
255.255.192.0
|
/18
|
255.255.255.248
|
/29
|
255.255.224.0
|
/19
|
255.255.255.252
|
/30
|
Catatan penting dalam subnetting ini adalah penggunaan oktat
pada subnet mask dimana :
- untuk IP Address kelas C yang dapat dilakukan
CIDR-nya adalah pada oktet terakhir karena pada IP Address kelas C subnet mask
default-nya adalah 255.255.255.0
- untuk IP Address kelas B yang dapat dilakukan
CIDR-nya adalah pada 2 oktet terakhir karena pada IP Address kelas B subnet
mask default-nya adalah 255.255.0.0
- untuk IP Address kelas A yang dapat dilakukan
CIDR-nya adalah pada 3 oktet terakhir karena IP Address kelas A subnet mask
default-nya adalah 255.0.0.0
untuk lebih jelasnya dapat kita lakukan perhitungan pada
contoh IP Address berikut ini :
diketahui IP Address 130.20.0.0/20 yang ingin diketahui dari
suatu subnet dan IP Address adalah ;
1. Berapa jumlah subnet-nya ?
2. Berapa jumlah host per subnet ?
3. Berapa jumlah blok subnet ?
4. Alamat Broadcast ?
Untuk dapat menghitung beberpa pertanyaan diatas maka dapat
digunakan rumus perhitungan sebagai berikut :
- Untuk menghitung jumlah subnet = (2x)
(2x) = (24) = 16 subnet
Dimana x adalah banyak angka binary 1 pada subnet mask di 2
oktat terakhir : 130.20.0.0/20, yang kita ubah adalah /20 menjadi bilangan
binary 1 sebanyak 20 digit sehingga (banyaknya angka binary 1 yang berwarna
merah) dan jumlah angka binary pada 2 oktat terakhir adalah 4 digit
/20
|
11111111
|
11111111
|
11110000
|
00000000
|
Decimal
|
255
|
255
|
240
|
0
|
- Untuk menghitung jumlah host per subnet = (2y-2)
(2y-2) = (212-2) = 4094 host
Dimana y adalah banyaknya angka binary 0 pada subnet mask di
2 oktat terakhir (banyaknya angka binary 0 yang berwarna hijau) dan jumlah
angka binary pada 2 oktat terakhir adalah 12 digit
/20
|
11111111
|
11111111
|
11110000
|
00000000
|
Decimal
|
255
|
255
|
240
|
0
|
(256-240)= 16
0 16 32 48 64 80 96 112 128 144 160 176 192 208 224 240
Hasil pengurangan tersebut kemudian menjadi nilai kelipatan
sampai nilainya sama dengan nilai pada 2 oktat terakhir di subnet mask, yaitu :
16+16 dan seterusnya hingga 240, kelipatan 16 adalah :
0 16 32 48 64 80 96 112 128 144 160 176 192 208 224 240
Dari hasil perhitungan diatas maka dapat kita simpulkan :
Untuk IP Address 130.20.0.0/20
Jumlah subnet-nya = 16
Jumlah host per subnetnya = 4094 host
Jumlah blok subnetnya sebanyak 16 blok yaitu
16 32 48 64 80 96 112 128 144 160 176 192 208 224 240
Terimakasih sudah membaca Artikel ini, semoga bermanfaat ya kawan
Terimakasih sudah membaca Artikel ini, semoga bermanfaat ya kawan
No comments:
Post a Comment